SejarahKerajaan Jenggala: Prasasti, Peninggalan, & Silsilah
Kehidupanpolitik Kerajaan Sunda . 61 9. Kerajaan Bali Gambar 2.15 Peta wilayah Kerajaan Bali Sumber: Chalid Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 12 a. Kehidupan politik Nama Bali sudah lama dikenal dalam beberapa sumber kuno. Dalam berita Cina abad ke-7 disebut adanya nama daerah yang bernama Dwa- pa-tan, yang terletak di
1906/2022. Kerajaan Sunda - Seperti yang diketahui bersama, salah satu kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia yang berlokasi di Jawa Barat adalah Kerajaan Sunda. Nah, pada artikel kali ini kita akan mengulas Kerajaan Sunda, mulai dari sejarah berdirinya, masa kejayaan 4 orang raja, kemunduran kerajaan, hingga apa saja peninggalan
MengenalKerajaan Sunda lebih dalam. Setelah berkilas balik tentang berdirinya kerajaan di tanah Sunda, mari kita mengintip bagaimana kehidupan dalam berbagai aspek di Kerajaan Sunda. 1. Kehidupan politik dan militer. Pemerintahan era lampau tidak lepas dari kata kerajaan.
F Kehidupan Politik Kehidupan politik kerajaan Sunda hampir sama dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Tahta kerajaan akan diturunkan kepada anak laki-laki dari keluarga kerajaan. Pernikahan antar keluarga kerajaan untuk memperluas wilayah kekuasaan dan memperkuat kerajaan.
Kehidupanpolitik: Dalam waktu yang cukup lama tidak dapat diketahui perkembangan keadaan Kerajaan Sunda selanjutnya. Kerajaan Sunda baru muncul kembali pada abad ke-11 (1030) ketika di bawah pemerintahan Maharaja Sri Jayabhupati. Nama Maharaja Sri Jayabhupati terdapat pada Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang
Kepemimpinankerajaan Sunda lebih terfokus pada penataan masyarakat ke dalam, bukan penaklukan keluar wilayah. "Kekuatan besar yang mampu menjatuhkan masyarakat itu tidak ada di Sunda, sehingga satuan politiknya lebih bersifat lokal," tutur Budi. Hingga saat ini, representasi politik Sunda masih rendah secara nasional.
Halini ditegaskan dalam berita Portugis bahwa pada tahun 1512 dan 1521 datang utusan dari kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Ratu Samiam. Ratu Samiam dalam berita Portugis ini sama dengan Prabu Surawisesa dalam Carita Parahyangan. Prabu Surawisesa menjadi raja dan memerintah tahun 1521-1535. a. Kehidupan politik Kerajaan Sunda.
Kehidupandi Kerajaan Galuh Kehidupan Politik kerajaan Galuh. Kehidupan politik di kerajaan ini tidak lepas dari berbagai perpecahan dan penyatuan kerajaan, yakni antara kerajaan sunda dan juga galuh. Setelah disatukan oleh Sanjaya, kerajaan tersebut pecah kembali di tahun 739 M menjadi kerajaan Galuh dan Sunda, dipecah untuk anak Panaraban.
a Kehidupan Politik. Dalam waktu yang cukup lama tidak dapat diketahui perkembangan keadaan Kerajaan Sunda selanjutnya. Kerajaan Sunda baru muncul kembali pada abad ke-11 (1030) ketika di bawah pemerintahan Maharaja Sri Jayabhupati. Nama Maharaja Sri Jayabhupati terdapat pada Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan
mviBsH. Kerajaan Galuh – Mengenal sejarah Kerajaan Galuh yang merupakan kerajaan yang diperkirakan berdiri pada sekitar tahun 669 Masehi dan didirikan oleh Tarusbawa. Kerajaan ini tepatnya berada di Pulau Jawa. Di mana letak Kerajaan Galuh? antara Sungai Citarum yang berada di sebelah barat dan Sungai Cipamali yang berada di Sebelah Timur. Lalu bagaimana cerita sejarah dari masa kejayaan hingga masa runtuhnya kerajaan, silsilah raja dan juga peninggalan dari kerajaan? Simak penjelasan berikut ini! Sejarah Kerajaan Galuh Kerajaan Galuh merupakan kerajaan yang terletak dan juga berkembang di wilayah Jawa bagian Barat. Pada sekitar tahun 932 Masehi sampai dengan 1579 Masehi mulainya perkembangan dari kerajaan. Sejarah Kerajaan Galuh Kerajaan Galuh berdiri dikarenakan Raja Tarumanegara yang memiliki 2 orang anak, dimana keduanya adalah perempuan, yakni yang bernama Dewi Manasih yang telah menikah dengan Tarusbaawa dan beliaulah pendiri dari Kerajaan Galuh atau Sunda. Kemudian anak yang dekua yakni adalah Sobakanca yang telah menikah dengan Dapuntahayang yang kemudian telah mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dikarenakan adanya pernikahan antar kerajaan yakni kerajaan Sunda dan juga keran Lampung. Dengan pernikahan tersebut kerajaan ini dan lampung bergabung dan membentuk sagu wilayah, tapi dipisahkan oleh batasan alam yakni Selat Sunda. Kerajaan ini menggunakan bahasa Sunda Kuno, sehingga ia disebut sebagai Kerajaan Sunda. Kerajaan ini juga pernah berpindah di pusat ibu kota beberapa kali selama kerajaan ini terkenal. Seperti yang dikutip di naskah Wangsakerta, kerajaan ini berdiri untuk menggantikan Kerajaan Tarumanegara yang sebelumnya telah berkuasa. Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh Tarusbawa. Kerajaan ini pernah disebutkan dalam naskah asing yang ditulis Bujangga Manik, adanya seorang pendeta Hindu yang berasal dari Sunda. Pendeta tersebut pernah pergi ke tempat agama Hindu muncul di Pulau Jawa pada abad ke-16. Letak Kerajaan Galuh Letak dari kerajaan Galuh juga berbeda-beda tidak bisa dipastikan, karena memang ada dua sumber yang pernah tercatat bahwa ada yang menuliskan letak wilayah dan batasan dari kerajaan ini. Catatan Tom Pires menyatakan bahwa kerajaan Galuh memiliki wilayah yang mencangkul sepertiga pulau Jawa, tetapi ada juga yang mengatakan seperdelapan pulau. Catatan yang kedua ialah, Wangsakerta. Dalam catatan ini dituliskan bahwa kerajaan Galuh mencangkul daerah yang cukup besar, yakni wilayah yang beretnis Sunda dan wilayah yang ada di sekitar Provinsi Lampung. Masa Kejayaan Kerajaan Galuh Masa Kejayaan Kerajaan Masa Kejayaan Kerajaan Galuh dipimpin oleh Prabu Siliwangi, yang kemudian disebut sebagai Pajajaran dalam waktu tertentu. Pada masa itu rakyat hidup dengan baik dan juga perkembangan ekonomi yang berlangsung dengan pesat. Kerajaan Galuh sendiri tidak memiliki defalh secara rinci pada saat masa kejayaan. Hal ini dikarenakan perpindahan ibu kota dan juga pergantian namanya yang sampai sekarang masih dipelajari oleh sejarawan. Apakah kerajaan ini masuk sebagai kerajaan Sunda, Pajajaran atau Galuh. Runtuhnya Kerajaan Galuh Runtuhnya Kerajaan Galuh Kerajaan ini runtuh pada saat masa kepemimpinan raja terakhir, yakni Prabu Suryakencana, beliau penganut dari agama Hindu. Penyebab runtuhnya kerajaan ini juga disebabkan oleh Kerajaan Banten. Hal ini bermula pada saat itu Kerajaan Banteng yang berada dibawah kepemimpinan oleh Maulana Yusuf datang dan juga menyerang secara fisik, sementara kerajaan kepemimpinan Prabu Surya Kencana sampai hancur. Kehidupan Kerajaan Galuh Kehidupan yang ada pada masyarakat Kerajaan Galuh dibagi menjadi 4 aspek yakni, Aspek Politik, Aspek Agama, Aspek Ekonomi, Aspek Sosial dan Aspek Budaya. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing aspek yang ada! Contoh Kehidupan Kerajaan Kehidupan Politik Kerajaan Galuh Kehidupan politik yang ada pada kerajaan ini tidak bisa lepas dari berbagai perpecahan dan juga penyatuan dari kerajaan, dua kerajaan tersebut adalah kerajaan Sunda dan juga Galuh. Setelah penyatuan yang telah dilakukan oleh Sanjaya, kerajaan ini pecah kembali tepatnya pada tahun 739 M, pada tahun tersebut kerajaan Galuh dan Sunda di pecah kembali untuk anak Panaraban. Pada saat itu kerajaan Galuh dipimpin oleh anak pertama dari Paraban yang bernama Sang Manarah. Kemudian kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sang Bangga. Pada tahun 1482 dua kerajaan tersebut bersatu kembali, hal ini dikarenakan adanya pernikahan antar keluarga oleh Jayadewata dengan gelar yang tersemat yakni Sri Baduga Maharaja, beliau memerintah di kerajaan pada sekitar tahun 1482 hingga 1521. Kehidupan Agama Kerajaan Galuh Kehidupan agama yang berada di kerajaan ini adalah mayoritas masyarakat beragama Hindu, hal ini bisa dilihat dari peninggalan dari prasasti kerajaan ini. Prasasti tersebut menggunakan bahasa Sunda kuno dan hal ini juga didukung dengan kerajaan Tarumanegara yang dulunya juga merupakan kerajaan Hindu tertua yang berada di Pulau Jawa. Tetapi karena seiring dengan perkembangan dan juga datangnya para pedagang Arab yang turut menyebarkan agama Islam, sehingga Islam juga berkembang pada kerajaan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pendirian madrasah Islam dan jufa pengurangan dari adat istiadat Agama Hindu di dalam masyarakat dan juga dalam kegiatan dari kerajaan. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Galuh Kehidupan ekonomi yang ada di kerajaan adalah petani dan nelayan. Hal ini dikarenakan memang kebanyakan dari masyarakat dari Galuh tersebut bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan, tetapi kebanyakan dari masyarakat menjadikan pertanian sebagai alat untuk bertahan hidup. Pada prasasti dan juga naskah kuno, tidak menjelaskan secara rinci dari keadaan ekonomi kerajaan Galuh, tetapi karena melihat dari seringnya kerajaan untuk berpindah ke ibu kota, hal itu memungkinkan bahwa kerajaan ini memiliki kehidupan ekonomi yang cukup bagus. Karena datangnya Belanda ke negara Indonesia menyebabkan masyarakat dari kerajaan Galuh harus kerja paksa yakni untuk menanam kopi dan juga kelapa serta nila. Karena adanya kerja paksa tersebut raja tidak bisa berbuat banyak, sehingga beliau memutuskan untuk membuat sebuah saluran irigasi yang digunakan untuk membantu beban dari rakyat agak pengairan dapat berjalan dengan mudah Kehidupan Sosial Kerajaan Galuh Kehidupan sosial dari kerajaan ini adalah menggunakan sistem pemerintahan monarki. Yakni sistem yang menganggap bahwa raja dan juga keluarganya akan mendapatkan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat pada kalangan biasa. Hal tersebut tidak bisa untuk ditolak, sehingga masyarakat menerima dengan baik dengan sistem pemerintahan tersebut. Tetapi perselisihan terjadi antara Galuh dan juga Sunda. Perselisihan dapat diatas dan seiring perkembangannya kemudian kedua kerajaan tersebut bisa menjadi kerajaan yang setara dan juga mengadakan hubungan bilateral yang cukup baik. Mata pencaharian selain bertani dan sebagai nelayan adakah sebagai pedagang. Masyarakat yang ada di Galuh juga mengandalkan segi ekonomi dengan cara berdagang, sehingga banyak juga pedagang yang berasal dari Arab dan Timur Tengah. Masyarakat hidup dengan tatanan sosial yang cukup baik seperti pada umumnya. Kehidupan Budaya Kerajaan Galuh Kehidupan Budaya yang ada pada masyarakat Kerajaan bisa dilihat dengan adanya naskah kerajaan dan juga perkembangan agama. Dimana pada saat itu sempat muncul keinginan untuk penurunan dari derajat sang hyang pada raja, tetapi hal tersebut ternyata dapat memberikan warna pada kerajaan dalam aspek kebudayaan. Karena kerajaan ini bercorak Hindu, maka banyak prasasti, naskah dan juga candi yang ditemukan, benda-benda tersebut merupakan peninggalan dari kerajaan Hindu dan menjadi bukti bahwa adanya pengembangan agama Hindu di Indonesia khususnya di wilayah Pulau Jawa. Prasasti yang ditemukan juga menjelaskan tentang kehidupan raja dan juga menceritakan tentang ada dan juga budaya yang telah dianut oleh masyarakat Sunda, hal ini tercantum khususnya pada Prasasti Kawali 4, sastrawan mengambil kesimpulan bahwa adat dan budaya yang ada pada kerajaan ini berkembang dengan baik. Raja Kerajaan Galuh Siapa raja kerajaan galuh? Kerajaan Galuh juga dipimpin oleh beberapa raja. Berikut ini merupakan penjelasan singkat serta daftar dari silsilah kerajaan! Contoh Raja Galuh Silsilah Raja Kerajaan Galuh Raja Tarusbawa Beliau merupakan raja pertama yang ada di kerajaan Galuh, dimana raja tersebut juga pernah menjadi pemimpin pada kerajaan Sunda sebelum kerajaan berada dibawah kekuasaan dari Tarumanagara. Raja Wretikandayun Beliau merupakan raja yang ada setelah kerajaan Sunda berdiri. Dimana Raja Wretikandayun berhasil membebaskan kerajaan Galuh untuk bisa berdiri sendiri, sebingga nanti penerus dari kerajaan teesebut adalah anak dari Wretikandayun yakni Sanjaya yang kemudian akan dinikahkan dengan Tarusbawa. Raja Sanjaya Raja Sanjaya merupakan raja yang berhasil menyatukan kerajaan Galuh dengan kerajaan Sunda, beliau juga dikenal sebagai pemimpin yang baik. Kemudian setelah melihat situasi yang cukup aman, kerajaan ini dipecah kembali menjadi 2 kerajaan yakni, kerajaan Galuh dan Sunda, dan berakhir dengan menyerahkan tahta kerajaan Galuh untuk anaknya. Lingga Buana Beliau merupakan ratu dari kerajaan Sunda-Galuh yang berada di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan juga Gajah Mada dari Majapahit. Dimana pada saat itu Majapahit sudah hampir menguasai seluruh wilayah Nusantara. Tetapi tidak sampai dengan mengerang kerajaan yang telah dipimpin oleh Linggabuana dan juga anaknya yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Peninggalan Kerajaan Galuh Kerajaan Galuh meninggalkan beberapa peninggalan-peninggalan yang bersejarah dan tentunya juga harus dijaga dan dirawat dengan baik. Lalu apa saja peninggalan-peninggalan tersebut? Simak penjelasan dibawah ini. Contoh Peninggalan Kerajaan Peninggalan Kerajaan Prasasti Galuh Prasasti tersebut merupakan tanda bahwa memang kerajaan Galuh pernah benar-benar ada. Prasasti Galuh sendiri masih disimpan dalam Museum Nasional Indonesia, dengan ukurang yang kecil, yakni berukuran 51 cm. Prasasti tersebut dituliskan di atas sebongkah batu yang dipahat dengan menggunakan aksara Sunda Kuno. Prasasti Rumatak Prasasti ini ditemukan dengan ukuran 85 cm dengan lebar sebesar 62 cm. Prasasti tersebut ditulis dan dipahat di batu dengan menggunakan bahasa 3 baris aksara Sunda Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah tentang pendirian dari kerajaan Rumatak oleh Sang Hyang. Situs Geger Sunten Peninggalan yang bisa kita lihat secara jelas berada di daerah Ciamis. Ciamis merupakan daerah yang menjadi tempat persembunyian dari Aki Balangatrang ketika beliau masih menjadi abdi dari kerajaan Galuh. Disitu para pengunjung bisa melihat batu yang dulu pernah digunakan oleh Ciung Wanara untuk petilasan ketika kerajaan Galuh masih berkuasa. Penutup Demikian penjelasan tentang Kerajaan Galuh, pembahasan yang dimulai dari sejarah, masa kejayaan dan masa runtuhnya kerajaan, cerita tentang kehidupan masyarakat yang ada pada saat itu, silsilah raja dan juga peninggalan dari kerajaan Galuh. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambahkan wawasan buat kalian semua terutama pada bidang sejarah, karena sejarah bukan untuk dilupakan, tapi sejarah untuk dijaga dan dirawat! Kerajaan GaluhSumber Referensi
Sejarah Kerajaan Sunda / Pasundan, Peninggalan, Wilayah, Raja, Masa Kejayaan dan Runtuhnya adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang terletak di bagian Barat pulau Jawa provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sekarang, antara tahun 932 dan 1579 Masehi. Berdasarkan sumber sejarah berupa prasasti dan naskah-naskah berbahasa Sunda Kuno KERAJAAN SUNDA dikatakan bahwa pusat kerajaan Sunda telah mengalami beberapa perpindahan. Kerajaan Sunda 669–1579 M, menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda 669 M. Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16, yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali “Sungai Pamali”, sekarang disebut sebagai Kali Brebes dan Ci Serayu yang saat ini disebut Kali Serayu di Provinsi Jawa Tengah. Tome Pires 1513 dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental 1513 – 1515, menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.” Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Makalah Kerajaan Malaka Sejarah Dan Peninggalan Serta Pendirinya Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi memerintah hanya selama tiga tahun, 666–669 M, menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun 612–702 memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar, dekat Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka kira-kira 18 Mei 669 M. Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur. Menurut Kitab Carita Parahyangan, Ibukota kerajaan Sunda mula-mula di Galuh, kemudian menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di tepi sungai Cicatih, Cibadak Sukabumi, Isi dari prasasti itu tentang pembuatan daerah terlarang di sungai itu yang ditandai dengan batu besar di bagian hulu dan hilirnya. Oleh Raja Sri Jayabhupati, penguasa kerajaan Sunda. Di daerah larangan itu orang tidak boleh menangkap ikan dan hewan yang hidup di sungai itu. Tujuannya mungkin untuk menjaga kelestarian lingkungan agar ikan dan lain-lainnya tidak punah siapa yang berani melanggar larangan itu, ia akan dikutuk oleh dewa-dewa. Kerajaan Sunda beribu kota di Parahyangan Sunda. Asal Mula Kerajaan Pajajaran Sunda Sejarah menyebutkan bahwa awal berdirinya Kerajaan Pajajaran ini adalah pada tahun 923 dan pendirinya adalah Sri Jayabhupati. Bukti-bukti ini didapat dari Prasasti Sanghyang berumur 1030 Masehi yang ada di Suka Bumi. Lebih lanjut, rupanya Kerajaan Pajajaran ini didirikan setelah perpecahan Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Rahyang Wastu. Saat Rahyang Wastu meninggal maka Kerajaan Galuh terpecah menjadi dua. Satu dipimpin oleh Dewa Niskala dan yang satunya lagi dipimpin oleh Susuktunggal. Meskipun terpecah menjadi dua namun mereka memiliki derajat kedudukan yang sama. Asal muasal Kerajaan Pajajaran dimulai dari runtuhnya Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400 masehi. Saat itu Majapahit semakin lemah apalagi ditandai dengan keruntuhan masa pemerintahan Prabu Kertabumi atau Brawijaya ke lima, sehingga ada beberapa anggota kerajaan serta rakyat mereka yang mengungsi ke ibu kota Galuh di Kawali, wilayah Kuningan, di mana masuk provinsi Jawa Barat. Wilayah ini merupakan daerah kekusaaan dari Raja Dewa Niskala. Raja Dewa Niskala pun menyambut para pengungsi dengan baik, bahkan kerabat dari Prabu Kertabumi yaitu Raden Baribin dijodohkan dengan salah seorang putrinya. Tidak sampai di situ, Raja Dewa Niskala juga mengambil istri dari salah seorang pengungsi anggota kerajaan. Sayangnya, pernikahan antara Raja Dewa Niskala dengan anggota Kerajaan Majapahit tidak disetujui oleh Raja Susuktunggal karena ada peraturan bahwa pernikahan antara keturunan Sunda-Galuh dengan keturunan Kerajaan Majapahit tidak diperbolehkan. Peraturan ini ada sejak peristiwa Bubat. Karena ketidaksetujuan dari pihak Raja Susuktunggal terjadilah peperangan antara Susuktunggal dengan Raja Dewa Niskala. Agar perang tidak terus menerus berlanjut maka Dewan Penasehat ke dua kerajaan menyarankan jalan perdamaian. Jalan perdamaian tersebut ditempuh dengan menunjuk penguasa baru sedangkan Raja Dewa Niskala dan Raja Susuktunggal harus turun tahta. Kemudian ditunjuklah Jayadewata atau dikenal juga dengan sebutan Prabu Siliwangi yang merupakan putra dari Dewa Niskala sekaligus menantu dari Raja Susuktunggal. Jayadewata yang telah menjadi penguasa bergelar Sri Baduga Maharaja memutuskan untuk menyatukan kembali ke dua kerajaan. Dari persatuan ke dua kerajaan tersebut maka lahirlah Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482. Oleh sebab itu, lahirnya Kerajaan Pajajaran ini dihitung saat Sri Baduga Maharaha berkuasa. Sumber Sejarah Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru. Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti Prasasti Batu Tulis, Bogor Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi Prasasti Kawali, Ciamis Prasasti Rakyan Juru Pangambat Prasasti Horren Prasasti Astanagede Tugu Perjanjian Portugis padrao, Kampung Tugu, Jakarta Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan Berita asing dari Tome Pires 1513 dan Pigafetta 1522 Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Kerajaan Banten Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya Politik, Sosial, Ekonomi Dan Budaya Kehidupan Politik Kerajaan Sunda Menurut Tome Pires, kerajaan Sunda diperintah oleh Seorang raja. Raja tersebut berkuasa atas raja-raja di daerah yang dipimpinnya. Tahta kerajaan diberikan secara turun temurun kepada anaknya. Akan tetapi, apabila raja tidak memiliki anak maka yang menggantikannya adalah salah seorang raja daerah berdasarkan hasil pemilihannya. Akibat sumber-sumber sejarah yang sangat terbatas, aspek kehidupan politik tentang Kerajaan Sunda/Pajajaran hanya sedikit saja yang diketahui. Aspek kehidupan politik yang diketahui terbatas pada perpindahan pusat pemerintahan dan pergantian takhta raja. Secara berurutan pusat-pusat kerajaan itu adalah Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran. Kerajaan Galuh Sejarah di Jawa Barat setelah Tarumanegara tidak banyak diketahui. Kegelapan itu sedikit tersingkap oleh Prasasti Canggal yang ditemukan di Gunung Wukir, Jawa Tengah berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal dibuat oleh Sanjaya sebagai tanda kebesaran dan kemenangannya. Prasasti Canggal menyebutkan bahwa Sanjaya adalah anak Sanaha, saudara perempuan Raja Sanna. Dalam kitab Carita Parahyangan juga disebutkan nama Sanjaya. Menurut versi kitab Carita Parahyangan, Sanjaya adalah anak Raja Sena yang berkuasa di Kerajaan Galuh. Pusat Kerajaan Prahajyan Sunda Nama Sunda muncul lagi pada Prasasti Sahyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang daerah Cibadak, Sukabumi. Prasasti itu berangka tahun 952 Saka 1030 M, berbahasa Jawa Kuno dengan huruf Kawi. Nama tokoh yang disebut adalah Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwanaman-daleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, sedangkan daerah kekuasaannya disebut Prahajyan Sunda. Pusat Kerajaan Kawali Pada zaman pemerintahan siapa pusat Kerajaan Sunda mulai berada di Kawali tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, menurut prasasti di Astanagede Kawali, diketahui bahwa setidak-tidaknya pada masa pemerintahan Rahyang Niskala Wastu Kancana pusat kerajaan sudah berada di situ. Istananya bernama Surawisesa. Raja telah membuat selokan di sekeliling keraton dan mendirikan perkampungan untuk rakyatnya. Pusat Kerajaan Pakwan Pajajaran Setelah Raja Rahyang Ningrat Kancana jatuh, takhtanya digantikan oleh putranya, Sang Ratu Jayadewata. Pada Prasasti Kebantenan, Jayadewata disebut sebagai yang kini menjadi Susuhunan di Pakwan Pajajaran. Pada Prasasti Batutulis Sang Jayadewata disebut dengan nama Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Sejak pemerintahan Sri Baduga Maharaja, pusat kerajaan beralih dari Kawali ke Pakwan Pajajaran yang dalam kitab Carita Parahyangan disebut Sri Bima Unta Rayana Madura Suradipati. Menurut kitab Carita Parahyangan, raja menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab hukum yang berlaku sehingga terciptalah keadaan aman dan tenteram, tidak terjadi kerusuhan atau perang. Daftar Raja Pajajaran Sri Baduga Maharaja 1482 – 1521, bertahta di Pakuan Bogor sekarang Surawisesa 1521 – 1535, bertahta di Pakuan Ratu Dewata 1535 – 1543, bertahta di Pakuan Ratu Sakti 1543 – 1551, bertahta di Pakuan Ratu Nilakendra 1551-1567, meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf Raga Mulya 1567 – 1579, dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati Haji-Ri-Sunda Rahyang Niskala Wastu Kencana Rahyang Dewa Niskala Rahyang Ningrat Kencana Sri Baduga MahaRaja Hyang Wuni Sora Ratu Samian Prabu Surawisesa dan Prabu Ratu Dewata. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Sejarah Kerajaan Aceh Raja Pendiri, Peninggalan, Masa Kejayaan Dan Kehidupan Politik Kehidupan Sosial Kerajaan Sunda Berdasarkan kitab Sanghyang Siksakandang Karesian, kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Sunda dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain sebagai berikut. Kelompok Rohani dan Cendekiawan Kelompok rohani dan cendekiawan adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan di bidang tertentu. Misalnya, brahmana yang mengetahui berbagai macam mantra, pratanda yang mengetahui berbagai macam tingkat dan kehidupan keagamaan, dan janggan yang mengetahui berbagai macam pemujaan, memen yang mengetahui berbagai macam cerita, paraguna mengetahui berbagai macam lagu atau nyanyian, dan prepatun yang memiliki berbagai macam cerita pantun. Kelompok Aparat Pemerintah Kelompok masyarakat sebagai alat pemerintah negara, misalnya bhayangkara bertugas menjaga keamanan, prajurit tentara, hulu jurit kepala prajurit. Kelompok Ekonomi Kelompok ekonomi adalah orang-orang yang melakukan kegiatan ekonomi. Misalnya, juru lukis pelukis, pande mas perajin emas, pande dang pembuat perabot rumah tangga, pesawah petani, dan palika nelayan. Kehidupan masyarakat Kerajaan Sunda adalah peladang, sehingga sering berpindah-pindah. Oleh karena itu, Kerajaan Sunda tidak banyak meninggalkan bangunan yang permanen, seperti keraton, candi atau prasasti. Candi yang paling dikenal dari Kerajaan Sunda adalah Candi Cangkuang yang berada di Leles, Garut, Jawa Barat. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sunda Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang masyarakatnya hidup dari pertanian, hasil pertaniannya menjadi pokok bagi pendapat kerajaan. Aneka hasil pertanian seperti lada, asam, beras, sayur mayur dan buah-buahan banyak dihasilkan masyarakat kerajaan Sunda, selain itu, ada juga golongan peternak Sapi, kambing, biri-biri dan babi adalah hewan yang banyak diperjualbelikan di bandar-bandar pelabuhan kerajaan Sunda. Menurut Tom Pires, kerajaan Sunda memiliki enam buah pelabuhan penting yang masing-masing di kepalai oleh seorang Syahbandar. mereka bertanggungjawab kepada raja dan bertindak atas nama raja di masing-masing pelabuhan, Banten, Pontang, Cigede, Tomgara, Kalapa dan Cimanuk adalah pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki kerajaan Sunda. Kehidupan Budaya Kerajaan Sunda Kitab carita Parahyangan dan serta Dewabuda memberi petunjuk bahwa masyarakat kerajaan Sunda banyak mendapat pengaruh budaya Hindu dan Budha. Kedua budaya itu selanjutnya berbaur dengan unsur budaya leluhur yang telah ada sebelumnya. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan pecahan dari kerajaan tarumanegara. Kerajaan Sunda beribu kota di Parahyangan Sunda. Sementara itu menurut prasasti Astana Gede Kawali – Ciamis ibu kota kerajaan Sunda berada di Pakwan Pajajaran. Mengenai perpindahan kerajaan ini tak diketahui alasannya. Akan tetapi, hal-hal yang bersifat ekonomi, keamanan, politik, atau bencana alam lazim menjadi alasan perpindahan pusat ibu kota suatu kerajaan. Kerajaan Sunda menguasai daerah Jawa Barat untuk waktu yang lama, diantara rajanya, yang terkenal adalah Jaya Bhupati dan Sri Baduga Maharaja. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Sejarah Kerajaan Singasari Awal Berdiri, Silsilah Raja, Masa Kejayaan Wilayah Kekuasaan dan Historiografi Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16, yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, Batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali “Sungai Pamali”, sekarang disebut sebagai Kali Brebes dan Ci Serayu yang saat ini disebut Kali Serayu di Provinsi Jawa Tengah. Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis. Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun 1371-1475. Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan Prabu Susuktunggal, yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum daerah asal Sunda. Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama 1382-1482, sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana Prabu Déwaniskala, yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh 1475-1482. Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata putra Ningratkancana dengan Ambetkasih putra Susuktunggal. Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa 1521-1535, kemudian Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543, Prabu Sakti 1543-1551, Prabu Nilakéndra 1551-1567, serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579. Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh. Padrão Sunda Kalapa Padrão Sunda Kalapa 1522, sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Rujukan awal nama Sunda sebagai sebuah kerajaan tertulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka 536 Masehi . Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi, namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini terjemahannya sebagai berikut Batu peringatan ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat, pada tahun 458 Saka, bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda. Beberapa orang berpendapat bahwa tahun prasasti tersebut harus dibaca sebagai 854 Saka 932 Masehi karena tidak mungkin Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 AD, di era Kerajaan Tarumanagara 358-669 AD . Prasasti Sanghyang Tapak Terdiri dari 40 baris yang ditulis pada 4 buah batu. Empat batu ini ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Kawi. Tanggal prasasti ini diperkirakan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun 952-964 saka 1030 – 1042AD. Sekarang keempat prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta, dengan kode D 73 Cicatih, D 96, D 97 dan D 98. Isi prasasti menurut Pleyte Perdamaian dan kesejahteraan. Pada tahun Saka 952 1030 M, bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, wuku Tambir. Hari ini adalah hari ketika raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa, membuat tanda pada bagian timur Sanghiyang Tapak ini. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk melanggar aturan ini. Dalam bagian sungai dilarang menangkap ikan, di daerah suci Sanghyang Tapak dekat sumber sungai. Sampai perbatasan Sanghyang Tapak ditandai oleh dua pohon besar. Jadi tulisan ini dibuat, ditegakkan dengan sumpah. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh makhluk halus, mati dengan cara mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, usus dihancurkan, dan dada dibelah dua. Prasasti Batutulis Keterangan tentang Raja Sri Baduga dapat kita jumpai dalam prasasti Batutulis yang ditemukan di Bogor. Ia adalah putra dari Ningrat Kancana. Sri Baduga merupakan raja yang besar. Ia membuat sebuah telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya. Ia memerintahkan membangun parit di sekeliling ibukota kerajaannya yang bernama Pakwan Pajajaran. Raja Sri Baduga memerintah berdasarkan kitab hukum yang berlaku saat itu sehingga kerajaan menjadi aman dan tenteram. Raja-Raja Kerajaan Sunda Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta waktu berkuasa dalam tahun Masehi 1. Tarusbawa menantu Linggawarman, 669 – 723 2. Harisdarma, atawa Sanjaya menantu Tarusbawa, 723 – 732 3. Tamperan Barmawijaya 732 – 739 4. Rakeyan Banga 739 – 766 5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766 – 783 6. Prabu Gilingwesi menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 – 795 7. Pucukbumi Darmeswara menantu Prabu Gilingwesi, 795 – 819 8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon 819 – 891 9. Prabu Darmaraksa adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 – 895 10. Windusakti Prabu Déwageng 895 – 913 11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi 913 – 916 12. Rakeyan Jayagiri menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 – 942 13. Atmayadarma Hariwangsa 942 – 954 14. Limbur Kancana putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 – 964 15. Munding Ganawirya 964 – 973 16. Rakeyan Wulung Gadung 973 – 989 17. Brajawisésa 989 – 1012 18. Déwa Sanghyang 1012 – 1019 19. Sanghyang Ageng 1019 – 1030 20. Sri Jayabupati Detya Maharaja, 1030 – 1042 21. Darmaraja Sang Mokténg Winduraja, 1042 – 1065 22. Langlangbumi Sang Mokténg Kerta, 1065 – 1155 23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155 – 1157 24. Darmakusuma Sang Mokténg Winduraja, 1157 – 1175 25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175 – 1297 26. Ragasuci Sang Mokténg Taman, 1297 – 1303 27. Citraganda Sang Mokténg Tanjung, 1303 – 1311 28. Prabu Linggadéwata 1311-1333 29. Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340 30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350 31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357 32. Prabu Bunisora 1357-1371 33. Prabu Niskalawastukancana 1371-1475 34. Prabu Susuktunggal 1475-1482 35. Jayadéwata Sri Baduga Maharaja, 1482-1521 36. Prabu Surawisésa 1521-1535 37. Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543 38. Prabu Sakti 1543-1551 39. Prabu Nilakéndra 1551-1567 40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579 Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Kerajaan Sriwijaya Sumber Sejarah, Raja, Peninggalan, Masa Kejayaan Dan Keruntuhannya Peninggalan Kerajaan Sunda 1. Prasasti Cikapundung Prasasti ini ditemukan warga di sekitar sungai Cikapundung, Bandung pada 8 Oktober 2010. Batu prasasti bertuliskan huruf Sunda kuno tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-14. Selain huruf Sunda kuno, pada prasasti itu juga terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, dan wajah. Hingga kini para peneliti dari Balai Arkeologi masih meneliti batu prasasti tersebut. Batu prasasti yang ditemukan tersebut berukuran panjang 178 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 55 cm. Pada prasasti itu terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, wajah, dan dua baris huruf Sunda kuno bertuliskan “unggal jagat jalmah hendap”, yang artinya semua manusia di dunia akan mengalami sesuatu. Peneliti utama Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri mengungkapkan, prasasti yang ditemukan tersebut dinamakan Prasasti Cikapundung. 2. Prasasti Pasir Datar Prasasti Pasir Datar ditemukan di Perkebunan Kopi di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi pada tahun 1872 . Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti yang terbuat dari batu alah ini hingga kini belum ditranskripsi sehingga belum diketahui isinya. 3. Prasasti Huludayeuh Prasasti Huludayeuh berada di tengah persawahan di kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran wilayang menjadi Kecamatan Dukupuntang – Cirebon. Penemuan Prasasti Huludayeuh telah lama diketahui oleh penduduk setempat namun di kalangan para ahli sejarah dan arkeologi baru diketahui pada bulan September 1991. Prasasti ini diumumkan dalam media cetak Harian Pikiran Rakyat pada 11 September 1991 dan Harian Kompas pada 12 September 1991. Isi Prasasti Huludayeuh berisi 11 baris tulisan beraksa dan berbahasa Sunda Kuno, tetapi sayang batu prasasti ketika ditemukan sudah tidak utuh lagi karena beberapa batunya pecah sehingga aksaranya turut hilang. Begitupun permukaan batu juga telah sangat rusak dan tulisannya banyak yang turut aus sehingga sebagian besar isinya tidak dapat diketahui. Fragmen prasasti tersebut secara garis besar mengemukakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang bertalian dengan usaha-usaha memakmurkan negrinya. 4. Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis adalah sebuah prasasti berbentuk tugu batu yang ditemukan pada tahun 1918 di Jakarta.. Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda–Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk “Raja Samian” maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda. Prasasti ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis. Prasasti ini ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut Prinsenstraat sekarang Jalan Cengkeh dan Groenestraat Jalan Kali Besar Timur I, sekarang termasuk wilayah Jakarta Barat. Prasasti tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta 5. Prasasti Ulubelu Prasasti Ulubelu adalah salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari abad ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung,Lampung pada tahun 1936. Meskipun ditemukan di daerah lampung Sumatera bagian selatan, ada sejarawan yang menganggap aksara yang digunakan dalam prasasti ini adalah aksara Sunda Kuno, sehingga prasasti ini sering dianggap sebagai peninggalan Kerajaan Sunda. Anggapan sejarawan tersebut didukung oleh kenyataan bahwa wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga wilayah Lampung. Setelah Kerajaan Sunda diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah selatan Sumatera dilanjutkan oleh Kesultanan Banten. Isi prasasti berupa mantra permintaan tolong kepada kepada dewa-dewa utama, yaitu Batara Guru Siwa, Brahma, dan Wisnu, serta selain itu juga kepada dewa penguasa air, tanah, dan pohon agar menjaga keselamatan dari semua musuh. 6. Prasasti Kebon Kopi II Prasasti Kebonkopi II atau Prasasti Pasir Muara peninggalan kerajaan Sunda-Galuh ini ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebonkopi I yang merupakan peninggalan kerajaan tarumanegara dan dinamakan demikian untuk dibedakan dari prasasti pertama. Namun sayang sekali prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an. Pakar F. D. K. Bosch, yang sempat mempelajarinya, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, menyatakan seorang “Raja Sunda menduduki kembali tahtanya” dan menafsirkan angka tahun peristiwa ini bertarikh 932 Masehi. Prasasti Kebonkopi II ditemukan di Kampung Pasir Muara, desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada abad ke-19 ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Prasasti ini terletak kira-kira 1 km dari batu prasasti Prasasti Kebonkopi I Prasasti Tapak Gajah. 7. Situs Karangkamulyan Situs Karangkamulyan adalah sebuah situs yang terletak di Desa Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat. Situs ini merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh yang bercorak Hindu-Buddha. Legenda situs Karangkamulyan berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak dibumbui dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda. Batu-batu ini berada di dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar. Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan menyimpan kisahnya sendiri, begitu pula di beberapa lokasi lain yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau mitos tentang kerajaan Galuh seperti pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Kerajaan Demak Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya Lengkap Masa Kejayaan dan Keruntuhan Sejarah Kerajaan Pajajaran saat Mengalami Masa Kejayaan Masa-masa di mana Kerajaan Pajajaran mengalami kejayaan adalah pada saat pemerintahan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaha. Bahkan sampai sekarang masa keemasan Prabu Siliwangi masih teringat di hati rakyat Jawa Barat. Sri Baduga Maharaha pada masa kejayaannya membangun sebuah telaga besar yang dia beri nama Maharena Wijaya. Selain itu, dia juga berhasil membangun sebuah jalan yang menghubungkan antara ibu kota dengan wilayah Wanagiri. Dari sana Sri Baduga Maharaha membangun banyak aspek Spiritual seperti menyarankan agar kegiatan-kegiatan agama dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, dia juga membangun asrama para prajurit, kaputren, tempat pagelaran, memperkuat benteng pertahanan, merencanakan dan mengatur masalah upeti, dan menyusun peraturan atau undang-undang kerajaan. Semua kegiatan dan pembangunan yang dilakukan oleh Sri Baduga Maharaha ini terukir di dalam dua buah prasasti bersejarah yaitu prasasti Batutulis dan Prasasti Kabantenan. Di sana di tulis tentang bagaimana Sri Baduga Maharaha membangun seluruh aspek kehidupan kerajaannya. Sejarah tersebut pun diceritakan dengan pantun dan kisah Babad. Sejarah Kerajaan Pajajaran saat Mengalami Masa Keruntuhan Tercatat bahwa Kerajaan Pajajaran ini runtuh pada tahun 1579. Keruntuhan Pajajaran lebih banyak disebabkan oleh penyerangan yang dilakukan oleh Kasultanan Banten. Selain itu, keruntuhan ini ditandai oleh tahta atau singgasana Raja yang disebut Palangka Sriman Sriwacana dibawa oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kerajaan Pajajaran ke Kraton Surosowan. Pemboyongan singgasana raja ini dilakukan sebagai tradisi sekaligus sebagai tanda bahwa tidak mungkin ada raja baru lagi yang bisa dinobatkan di Kerajaan Pajajaran. Akhirnya, Maulana Yusuf lah yang berkuasa di wilayah-wilayah Kerajaan Sunda. Jika Anda menengok bekas Kraton Surosowan di Banten, maka Anda bisa melihat terdapat reruntuhan Palang Sriman Sriwacana yang telah diboyong oleh Maulana Yusuf. Reruntuhan batu tersebut di sebut oleh masyarakat Banten sebagai Watu Gilang yang berarti berseri atau mengkilap. Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari
- Linggawarman adalah raja terakhir dari Kerajaan Tarumanegara yang memerintah antara 666-669. Masa pemerintahannya yang singkat, yakni selama tiga tahun, menandai akhir dari Kerajaan Tarumanegara yang berdiri sejak abad ke-4. Setelah Linggawarman wafat pada 669, takhta Tarumanegara jatuh ke tangan menantunya, yang membuat kerajaan terpecah menjadi sejarah singkat kehidupan Raja Linggawarman. Baca juga Kerajaan Tarumanegara Raja-raja, Puncak Kejayaan, dan Peninggalan Siapa Raja Linggawarman? Linggawarman adalah raja ke-12 dari Kerajaan Tarumanegara yang naik takhta pada tahun 666. Ketika menikahi Dewi Ganggasari dari Indraprahasta di Cirebon, Linggawarman mempunyai dua putri, yakni Dewi Manasih dan Sobakancana. Dewi Manasih dipersunting oleh Tarusbawa dari Sunda, sementara Sobakancana dinikahi oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya. Pada masa pemerintahan Linggawarman, Kerajaan Tarumanegara telah mengalami kemunduran. Linggawarman meninggal pada tahun 669 tanpa memiliki putra mahkota yang akan mewarisi takhtanya. Karena itu, takhta Tarumanegara jatuh ke tangan Tarusbawa, suami dari putri sulung Linggawarman. Baca juga 7 Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Melansir laman resmi Disparbud Kota Bekasi, Tarusbawa berasal dari Dayeuh Sundasembawa sebutan Bekasi tempo dulu. Pergantian kekuasaan ternyata menandai akhir dari Kerajaan Tarumanegara, karena Tarusbawa lebih menginginkan untuk memerintah dari Sunda, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Tarumanegara. Keputusan itu menimbulkan gejolak yang menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Tarumanegara. Pasalnya, Wretikandayun memanfaatkan momen tersebut untuk melepaskan diri dari Tarumanegara. Wretikandayun adalah cicit dari Suryawarman, raja Tarumanegara periode 535-561, yang menjadi penguasa Kerajaan Galuh. Pengalihan kekuasaan ke Kerajaan Sunda membuat Wretikandayun tidak sepakat dan memutuskan untuk memisahkan diri. Baca juga Kehidupan Politik Kerajaan Tarumanegara Pada akhirnya, sepeninggal Linggawarman, wilayah bekas Kerajaan Tarumanegara dibagi menjadi dua kekuasaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai pembatasnya. Wilayah Kerajaan Sunda yang diperintah oleh Tarusbawa berada di sebelah barat Sungai Citarum. Sedangkan Kerajaan Galuh berada di bawah pemerintahan Wretikandayun memiliki wilayah di sebelah timur Sungai Citarum. Referensi Darmawan, Joko dan Rita Wigira Astuti. 2018. Sandyakala Kejayaan & Kemashyuran Kerajaan Nusantara. Ponorogo Uwais Inspirasi Indonesia. Miswati, Woro. 2011. Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Jakarta Be Champion. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.